Bocah Ini Berusaha Bangunkan Mayat Ibunya, Diduga Meninggal Kelaparan dalam Perjalanan Mudik

- 28 Mei 2020, 21:52 WIB
BOCAH di India berusaha membangunkan ibunya yang telah meninggal di stasiun kereta api.* ALJAZEERA
PIKIRAN RAKYAT - Baru-baru ini viral sebuah video di media sosial yang menayangkan seorang bocah laki-laki berusaha membangunkan mayat ibunya yang terbaring kaku di stasiun kereta api di Muzzaffarpur, India.
 
Dilansir Pikiranrakyat-bandungraya.com dari Aljazeera, Kamis 28 Mei 2020, menurut laporan dari media lokal, ibu dari bocah tak berdosa itu meninggal karena menderita kelaparan dan dehidrasi. 
 
Kondisi kelaparan ini ramai disangkut pautkan dengan penderitaan yang dialami para pekerja migran pasca India menerapkan kebijakan lockdown yang menyiksa masyarakat dari segi ekonomi. 
 
 
Namun demikian, menurut laporan Aljazeera, polisi setempat mengatakan bahwa ibu dari bocah tersebut meninggal karena sakit.
 
Dalam beberapa hari terahir, setidaknya India telah melaporkan sembilan pekerja migran yang tewas dalam kereta saat menempuh perjalanan untuk pulang ke kampung halaman.
 
Rekaman bocah lelaki berusia dua tahun yang berusaha menarik kain yang menutupi wajah sang ibunda turut ditayangkan di media lokal.
 
 
Seakan tak mengerti apa yang sedang terjadi, bocah itu berusaha membangunkan ibunya yang terbaring kaku tanpa nyawa di Stasiun Kereta Api Muzaffar, Negara Bagian Bihar, India.
 
Polisi setempat mengatakan, Khatoon, nama ibunda sang bocah, meninggal karena sakit. Pernyataan ini didukung oleh surat keterangan sakit dari kerabat yang ditunjukkan oleh pihak pengelola kereta api.
 
Akan tetapi, penumpang lain yang turut menjadi saksi perjalanan sang ibu itu mengklaim bahwa dia meninggal karena kekurangan makanan dan air selama perjalanan di dalam kereta api sejauh 1.800 kilometer dari negara bagian Gujarat Barat.
 
 
Sembilan kematian lain termasuk ibu dari bocah tersebut cukup banyak disoroti. Pandemi virus corona memang memperburuk kondisi para migran India.
 
Tak ayal, sebab jutaan orang pekerja migran, masyarakat desa yang menggantungkan hidup di kota justru kehilangan pekerjaan.
 
Dalam situasi lockdown, para migran berbondong-bondong kembali ke rumah mereka di desa.
 
 
Kematian tersebut terjadi pada kereta khusus yang dibuka oleh pemerintah India untuk membantu mengangkut pekerja yang terdampak ke rumah mereka. Sebelumnya, tidak ada akses kendaraan sama sekali selama lockdown.
 
Para kritikus menilai, kematian disebabkan oleh adanya keterlambatan kereta-kereta khusus tersebut saat mengangkut dan mengantarkan para migran.
 
Kondisi tersebut mau tak mau membuat para migran menunggu kereta dalam kondisi cuaca yang panas selama berhari-hari.
 
 
Lebih parah lagi, ketika ada di dalam, kereta api tak memberikan stok makanan dan minuman yang cukup sehingga para penumpang kelaparan, padahal perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh dan memakan waktu lama.
 
Namun, tuduhan terkait stok makanan tersebut langsung ditepis oleh pemerintah dan pengelola keteta api bahwa ada kekurangan makanan di sana.
 
Pemerintah India telah menjanjikan angkutan kereta bagi para migran mengingat banyaknya para migran yang nekat mudik karena tak memiliki pekerjaan lagi di kota besar.
 
 
Namun kenyataannya, lusinan kereta tidak kunjung tiba. Hal ini dilaporkan oleh media setempat. Tetapi lagi-lagi pejabat berdalih, mengatakan bahwa kereta harus dialihkan untuk memudahkan lalu lintas.
 
Seorang bocah lelaki berusia empat tahun juga dilaporkan tewas sebelum mencapai stasiun Muzaffarpur.
 
Ayahnya mengatakan bahwa dia meninggal karena kereta api yang disediakan khusus oleh pemerintah memiliki fasilitas yang buruk.
 
 
Namun, polisi setempat membantah, kepada AFP mereka mengatakan bahwa anak itu meninggal di dalam kereta karena sakit.
 
Mayat dua pekerja migran lain adalah mereka yang menempuh perjalanan sejauh 1.480 kilometer dari Mumbai ke Varanasil. Polisi mengatakan kedua pria itu meninggal karena penyakit bawaan mereka.
 
Press Trust of India (PTI) melaporkan lima pekerja migran lainnya tewas dalam perjalanan kereta api pada Senin, dan Rabu 27 Mei 2020.
 
 
Sementara itu, dalam twitter resminya, Indian Railways mengatakan bahwa sejauh ini tidak pernah ada kematian di dalam kereta api yang disebabkan oleh kelaparan.
 
"Dalam sebagian besar kasus ini, ditemukan bahwa mereka yang meninggal adalah orang tua, orang sakit dan pasien dengan penyakit kronis, yang benar-benar pergi ke kota-kota besar untuk perawatan medis," kata juru bicara Indian Railways kepada kantor berita setempat.
 
Apatis Terhadap Migran
 
 
Kementerian Perkeretaapian juga tak luput dari kritik masyarakat, sebab fasilitas kereta api yang diberikan tidak cuma-cuma, alias para migran harus tetap membayar tiket.
 
Partai oposisi menuduh pemerintah apatis terhadap para migran. Sebab awalnya mereka telah menawarkan untuk membayarkan tiket pada migran, mereka juga mengaku akan menyediakan bus untuk mengangkut migran terjebak tanpa pekerjaan di kota-kota di seluruh negeri karena panmdemi virus corona.
 
Jutaan orang miskin India, termasuk pekerja migran, terus menerus menderita karena lockdown di aindia sangat ketat, hingga membuat buruh migran di sejumlah kota besar kehilangan pekerjaan mereka
 
 
Pada migran kelaparan dan berjuang untuk kembali ke desa asal mereka agar bisa bertahan hidup.
 
Lebih dari 100 juta orang India telah kehilangan pekerjaan setelah kebijakan lockdown diresmikan pada 25 Maret 2020 oleh Perdana Menteri Narendra Modi untuk menekan angka penyebaran virus corona.
 
Para kritikus menuduh pemerintahan Narendra Modi terlalu memaksakan kehendak, kebijakan dinilai dilajuka  tanpa perencanaan yang matang, sehingga ekonomi India kacau dan krisis.
 
 
Krisis ini merupakan krisis terburuk bagi migran India sejak negara itu merdeka pada 1947.
 
Demi bertahan hidup, beberapa migran memilih jalan kaki atau menggunakan sepeda mereka untuk kembali pulany ke kampung halaman.
 
Menempuh perjalanan sejauh ratusan kilometer di tengah teriknya matahari musim panas. Puluhan orang yang berjuang pulang ke kampung halaman dilaporkan meninggal dunia karena kelelahan atau kecelakaan.
 
 
Awal bulan Mei 2020, India juga telah melaporkan 16 kematian migran yang meninggal ditabrak kereta api saat mereka sedang tidur dan beristirahat di atas rel.***

Editor: Fitri Nursaniyah

Sumber: Aljazeera


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X