Waspada New Normal, Peneliti Ungkap Trik Jitu Agar Terhindar dari Gelombang Dua Virus Corona

- 28 Juni 2020, 13:19 WIB
Warga melintas di dekat mural bergambar tenaga medis dan Virus Corona di kawasan Bantul, D.I Yogyakarta, Selasa 23 Juni 2020. Mural yang dibuat oleh warga itu guna mengingatkan warga agar waspada terhadap COVID-19 serta bertujuan untuk memberikan dukungan atas perjuangan tenaga medis yang menjadi garis terdepan dalam penanganan COVID-19. - Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp.

PR BANDUNGRAYA - Sejak pertama kali ditemukan akhir 2019 lalu, virus corona telah merubah banyak hal yang pada awalnya direncanakan. Bukan satu dua event besar dibatalkan demi menekan naiknya kasus Covid-19.

Memasuki pertenganan tahun 2020, sejumlah negara di dunia mulai melonggarkan lockdown termasuk di Indonesia sendiri yang mulai mengubah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Kebijakan memungkinkan masyarakat kembali beraktivitas normal dengan syarat tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Baca Juga: 15 Teori Dibalik Video Klip BTS 'Stay Gold', Dari Lorong hingga Insiden Tabrakan Suga saat Trainee

Seperti dilansir PMJ Newe, Minggu 28 Juni 2020, studi terbaru Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) menunjukkan disiplin terhadap protokol kesehatan bisa menjadi senjata agar terhindar dari gelombang dua Covid-19 saat AKB mulai diterapkan.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behaviour, Rodo dan tim membuat proyeksi berdasarkan model yang membagi populasi menjadi tujuh kelompok.

Mereka terdiri atas orang-orang yang rentan, dikarantina, terpapar, menular tidak terdeteksi, dilaporkan menular, pulih, dan meninggal.

Baca Juga: BLACKPINK 'How You Like That' Pecahkan 9 Rekor Baru Termasuk Penonton YouTube Terbanyak dalam 24 Jam

Model ini juga mensimulasikan tingkat karantina populasi dan berbagai strategi pasca aturan pembatasan. Rodo mengatakan, model dalam penelitian berbeda karena turut mempertimbangkan kembalinya orang yang semula mengalami lockdown ke populasi rentan.

Hal itu dapat membantu memperkirakan dampak pembatasan, mencakup perilaku, dan persepsi risiko sebagai faktor modulasi.

Halaman:

Editor: Fitri Nursaniyah

Sumber: PMJ News


Tags

Komentar

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

Pikiran Rakyat Media Network

X