Setelah Pfizer dan Moderna, Vaksin Covid-19 Rusia Sputnik V Diklaim Efektif hingga 91,4 Persen

- 26 November 2020, 13:02 WIB
Ilustrasi vaksin Covid-19 Sputnik V.
Ilustrasi vaksin Covid-19 Sputnik V. /PEXELS/Nataliya Vaitkevich

PR BANDUNGRAYA - Setelah Pfizer dan Moderna berhasil lebih dulu, kini pengembang vaksin Covid-19 Rusia mengumumkan hasil uji coba Sputnik V mencapai efektivitas hingga 91,4 persen.

Akan tetapi, analisis baru ini berdasarkan pada 39 kasus secara keseluruhan, delapan di antara individu dari kelompok yang divaksinasi Covid-19 dibandingkan dengan 31 pada kelompok plasebo yang jauh lebih kecil.

Melalui konferensi media virtual pada Kamis, 25 November 2020 CEO Russian Direct Investment Fund, Kirill Dmitriev mengatakan bahwa hasil uji coba vaksin Covid-19 ini adalah berita baik untuk dunia.

Baca Juga: Ketampanan Jin BTS Sempat Harus Ditutup karena Alasan Kesehatan, Ada Apa?

Secara khusus, vaksin Covid-19 Sputnik V memilih dua adenovirus yang berbeda dalam uji coba yang dilakukan, karena kekhawatiran sejumlah kekhawatiran terhadap reaksi kekebalan.

Dilansir Prbandungraya.pikiran-rakyat.com dari The Science Times, diketahui skema dosis ganda dimulai dengan vaksin Ad26, kemudian diikuti dengan suntikan penguat setelah 21 hari yang mengandung Ad5.

Satu manfaat yang dapat diberikan oleh vaksin adenovirus adalah dapat disimpan di lemari es standar atau biasa dan tidak membutuhkan freezer khusus.

Lebih lanjut, Dmitriev mengatakan bahwa para peneliti berencana menerbitkan hasil uji coba vaksin Covid-19 dalam jurnal peer-review internasional.

Baca Juga: Mengenal Stephanie Lee, Pemeran Jung Sa Ha di Drama Start-Up yang Menapaki Awal Karier sebagai Model

Sementara, wakil direktur Gamaleya Center, Denis Logunov, mencatat bahwa vaksin Sputnik V memiliki efek samping seperti nyeri di area yang disuntik, sakit kepala, dan demam.

Pihaknya telah mengamati bahwa efek samping dari vaksin tersebut tidak menyebabkan kejadian parah atau tidak ada hal-hal negatif yang muncul dari suntikan vaksin Sputnik V.

Dmitriev mengatakan, mitra di Korea Selatan, Brasil, Tiongkok, dan India saat ini sedang memproduksi vaksin, yang harganya bisa di bawah 10 dolar AS atau sekitar Rp141.000 untuk satu dosis vaksin.

Perjanjian tersebut memungkinkan pembuatan satu miliar dosis Sputnik V pada 2021, dengan dosis pertama yang akan dikirimkan secara global pada Januari.

Baca Juga: Kegilaan Kai EXO terhadap Fashion Terungkap, Salah Satunya Label Baju yang Tidak Pernah Dilepas

Terlepas dari hal itu, peneliti di Institut Poliomyelitis dan Viral Encephalitides Chumakov Akademi Ilmu Kedokteran Rusia di Moskow, Alexey Chumokov mengatakan, semua orang perlu berhati-hati.

Menurut Chumokov, semua orang harus menunggu waktu hingga vaksin menunjukan hasil pengujian yang efektif.***

Editor: Bayu Nurulah

Sumber: The Science Times


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x