Gempa Bumi Berkekuatan M6,3 Mengguncang Maluku, BPBD: Masyarakat Tidak Merasakan Getaran

- 1 November 2020, 13:20 WIB
Peta pusat gempa M6,3 di Maluku Barat Daya.
Peta pusat gempa M6,3 di Maluku Barat Daya. /BMKG

PR BANDUNGRAYA - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,3 mengguncang wilayah Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, pada Minggu, 1 November 2020.

Menurut data yang dirilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa bumi berada di laut, atau 54 kilometer (km) barat daya laut Tepa, Maluku Barat Daya (MBD).

Gempa bumi dengan kedalaman 196 km tersebut terjadi sekitar pukul 10.43 WIB, BMKG melaporkan gempa tidak memicu terjadinya tsunami.

Baca Juga: Heboh Patung Lilin Donald Trump Dibuang dari Madam Tussauds ke Tempat Sampah

Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten MBD melaporkan bahwa saat gempa terjadi, masyarakat tidak panik.

Dilansir Prbandungraya.pikiran-rakyat.com dari laman resmi BNPB, diketahui bahwa warga di wilayah MBD saat ini dalam keadaan kondusif, bahkan sebagian besar warga tidak merasakan getaran dari gempa tersebut.

Berdasarakan peta guncangan yang diukur dengan skala MMI, gempa dengan level II MMI dirasakan di Dobo, sedangkan level II hingga III MMI dirasakan di wilayah Saumlaki.

Baca Juga: Update 10 Kecamatan dengan Kasus Aktif Covid-19 Tertinggi di Kota Bandung

Sekitar dua tahun lalu, tim Wave dari Universitas Brigham Young (BYU) telah melakukan kajian paleotsunami di wilayah tersebut.

Hasil kajian dari tim tersebut menunjukan data bahwa di wilayah MBD pernah beberapa kali diguncang gempa bumi secara periodik yang terjadi 37 tahun sekali.

Akan tetapi, setelah 42 tahun gempa bumi tidak terjadi di wilayah MBD, sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan pemerintah, dan masyarakat.

Baca Juga: Komentari Pernyataan Megawati Soal Aksi Demo Pemuda, Hamid: Megawati Gagal Pahami Kaum Milenial

Selain itu, sejarah tsunami juga tercatat pernah menerjang wilayah tersebut, yang dipicu oleh gempa bumi yang berpusat di palung Timor, Banda, dan titik lainnya.

Sementara tim telah mensosialisasikan metode 20-10-20 untuk wilayah pulau yang tersebar di Maluku Barat Daya.

Lebih lanjut tim Wave menjelaskan, angka 20 pada bagian pertama menunjukan kejadian gempa yang berdurasi 20 detik.

Baca Juga: Gegara Pernyataannya Soal Sumbangsih Milenial Jadi Viral, Megawati: Aku Sampai Mikir, Keren Ya Gue

Kemudian angka 10 berarti masyarakat memiliki waktu, atau golden time hanya 10 menit untuk mencari tempat yang lebih tinggi dan melakukan evakuasi.

Sedangkan angka 20 terakhir mengacu pada titik evakuasi, yang harus memiliki ketinggian 20 meter dari permukaan laut.

Sebelumnya, tim Wave yang dipimpin oleh Profesor Ron Harris pernah mengemukakan jargon 20-20-20, sebagai peringatan dini bagi masyarakat yang berada di wilayah Pacitan, Jawa Timur.

Baca Juga: Mendeteksi Batuk Orang Sehat dan Batuk Pasien Covid-19 dengan Aplikasi

Sebagaimana diketahui, gempa berdurasi 20 detik yang berpusat di laut, berpotensi besar memicu terjadinya tsunami.***

Editor: Fitri Nursaniyah

Sumber: BNPB


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah