Polemik Karikatur Nabi Muhammad Charlie Hebdo, Kemenlu RI Didesak Ajukan Protes Keras ke Prancis

- 27 Oktober 2020, 18:31 WIB
Bendera Prancis.
Bendera Prancis. /PIXABAY/RGY23

PR BANDUNGRAYA – Menanggapi polemik karikatur Nabi Muhammad yang menghebohkan penduduk muslim, Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI diminta untuk melayangkan protes keras terhadap pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron terhadap umat Islam.

Muhammad Iqbal, anggota Panitia I DPR RI, menegaskan protes keras wajib dilayangkan karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Dalam pernyataannya pada 27 Oktober 2020, ia mengatakan, "Sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam dan menjaga toleransi beragama serta perdamaian dunia, kami meminta Kemenlu RI untuk mengajukan protes keras terhadap pernyataan Presiden Prancis Emannuel Macron."

Baca Juga: Ratusan Ribu Petisi Berhasil Terkumpul untuk Penolakan Pembangunan Jurrasic Park di Pulau Komodo

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menambahkan, Indonesia juga merupakan anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang harus mengimbau negara-negara untuk menjaga perdamaian dunia.

Selain itu, anggota Komisi DPR Bidang Pertahanan itu juga mengusulkan agar pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan kembali berbagai bentuk kerja sama dengan Prancis, hingga Presiden Marcon menyampaikan permintaan maaf kepada umat Islam terkait pernyataannya dan menghentikan penghinaan simbol Islam seperti pembuatan karikatur Nabi Muhammad.

"Termasuk rencana pembelian jet tempur rafale," katanya.

Pasca insiden terbunuhnya seorang guru bahasa Prancis yang mempertunjukkan kartun Nabi Muhammad, Marcon menuding Muslim sebagai separatisme dan menggambarkan Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia.

Baca Juga: Gelontorkan APBN hingga Rp340 Miliar, Indonesia Akan Mulai Mencari Alien

Samuel Paty, seorang guru sejarah di Paris, tewas dipenggal oleh remaja berusia 18 tahun saat perjalanan pulang dari sekolah pada Jumat, 16 Oktober 2020.

Kejadian bermula ketika Paty mengadakan diskusi kelas untuk mata pelajaran pendidikan moral dan kewarganegaraan tentang kebebasan berbicara.

Dalam diskusinya, Samuel Paty menunjukan karikatur Nabi Muhammad dari Charlie Hebdo yang memicu kemarahan dari sejumlah orang tua siswa.

Sebelumnya,Sameul Paty telah meminta siswa Muslim untuk meninggalkan kelas, namun ada satu orang siswa Muslim yang tetap tinggal di kelas.

Melalui pernyataan yang unggah di media sosial, orang tua dari siswa itu memprotes tindakan Paty, dan meluapkan amarahnya.

Baca Juga: Sorot Aktivitas Belanja, ShopeePay Deals Rp1 Hadir di Euforia 11.11

Untuk meredakan situasi, pihak sekolah mengadakan pertemuan antara kepala sekolah, guru, dan pejabat dari Dinas Pendidikan.

Setelah kejadian tersebut, Sameul Paty mulai merasa terancam, bahkan memutuskan untuk mengubah rutenya dalam perjalanan pulang.

Nahas, pada Jumat sore waktu setempat, Paty ditemukan tewas dengan banyak luka di kepala, di Conflans-Sainte-Honorine.***

Editor: Bayu Nurulah

Sumber: RRI


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x